Upacara Nampah Batu di Pura Puseh Desa Depeha, Kecamatan Kubutambahan Kab. Buleleng

Administrator 18 Juni 2019 13:34:21 WITA

Purnama Sasih Karo lalu, Warga Desa Depeha, Kecamatan Kubutambahan, Buleleng, menggelar upacara unik yaitu Nampah Batu. Batu yang dipergunakan sebagai sarana upakara, ini merupakan babi duwe secara niskala milik Ratu Ayu Manik Galih yang berstana di Pura Yeh Kedis. Konon, kisah awal mula nampah batu berawal dari babi yang hendak disemblih, kemudian saat dibanting tiba-tiba berubah menjadi batu.  

 

Meski tak ada catatan sejarah sejak kapan dilaksanakan upacara nampah batu, namun keyakinan yang tinggi demi mewujudkan keseimbangan alam membuat krama (warga) Desa Pakraman Depeha menggelar upacara ini secara turun temurun.

Hal tersebut diungkapkan oleh Tokoh Adat Desa Depeha Jro Ketut Juena, 71, saat ditemui di rumahnya, Minggu kemarin (3/9). Menurutnya, berdasarkan penuturan dari para pendahulunya, sebelum digelar upacara nampah batu, krama desa memang senantiasa menyembelih babi pada saat pujawali di Pura Puseh.

“Sebelumnya setiap pujawali di Pura Puseh memang selalu menyembelih babi. Namun bertepatan saat piodalan di Pura Puseh justru tidak ditemukan babi sama sekali. Sehingga krama Desa Depeha harus kesana kemari mencari babi untuk dipergunakan sebagai sarana upakara. Namun tidak ada hasil,” kata Jro Ketut Juena.

 

Setelah pencarian babi tidak menemukan hasil hingga menjelang sore hari, sambung Jro Ketut Juena, tiba-tiba seorang krama desa melihat babi yang jumlahnya sangat banyak di areal Pura Yeh Kedis. “Penemuan babi itu langsung dilaporkan kepada seluruh krama desa. Setelah dilihat langsung diburu dan didapat seekor babi yang berukuran paling besar untuk dipakai sarana upakara,” tutunya.

Setelah berhasil ditangkap, babi tersebut kemudian dibawa ke areal Pura Puseh untuk disembelih. Namun, saat mau disembelih, justru semua senjata tidak mampu membunuh babi tersebut. “Jangankan dibunuh, sedikitpun babinya tidak bisa dilukai. Sehingga krama desa dibuat penasaran karena babi begitu kebal. Akhirnya di tengah keputusasaan, babi itu diangkat bersama-sama lalu dibanting. Nah saat dibanting itulah berubah menjadi batu,” jelasnya.

Karena sudah sore dan krama desa perutnya merasa lapar, dikatakan Jro Ketut Juena, maka krama desa terpaksa makan sayur seadanya yang dijual oleh pedagang di depan pura. Keajaiban pun terjadi saat krama desa tengah asyik bersantap sayuran yang dijual pedagang di depan Pura Puseh saat pujawali berlangsung.

 
 

“Nah saat makan sayuran itulah, krama merasakan hal aneh, sayuran tersebut dirasakan seperti daging babi. Kemudian saat pujawali di Pura Puseh berlangsung maka turunlah Ida Bhatara Istri dan memberikan wangsit kepada krama Desa Depeha agar saat pujawali di Pura Puseh wajib menyembelih batu. Batu tersebut secara niskala adalah babi duwe milik Ratu Ayu Manik Galih (Dewi Sri) yang berstana di Pura Yeh Kedis, sebelah timur Pura Puseh. Sejak kejadian itulah krama Desa Depeha disebut  Jro Juena menggelar upacara nampah batu,” kata Jro Juena.

Upacara ini disebut Jro Juena dilaksanakan setiap Puranama Sasih Karo. Tetapi bukan sembarang Sasih Karo. Artinya upacara nampah batu hanya digelar tiap sasih karo (Juli-Agustus) yang tidak ada Wuku Wariga.

“Kalau ada wuku Wariga saat Sasih Karo tersebut, maka upacara nampah batu tak boleh digelar, dan diundur di tahun depan. Kalau tahun depan masih ada Wuku Wariga di Sasih Karo maka diundur lagi pelaksanaannya. Oleh karena itulah upacara ini dilaksanakan belum tentu setahun sekali atau dua tahun sekali. Bahkan bisa saja hingga lima tahun sekali. Itulah menariknya,” kata Jro Juena.

 

Alasannya pun sungguh masuk akal, mengapa digelar di Purnama Sasih Karo yang tidak ada Wuku Wariga. Sebab, dikatakan Jro Ketut Juena, umat Hindu di Bali, apabila Wuku Wariga tiba, itu menandakan hari Raya Galungan dan Kuningan sudah dekat, atau tinggal 25 hari. Itu berarti umat Hindu akan mulai sibuk mempersiapkan Hari Raya Galungan dan Kuningan, baik sisi material maupun tenaga.

“Sehingga para tetua dulu sepakat menghindari menggelar upacara nampah batu berdekatan dengan hari Raya Galungan dan Kuningan. Tentu perhitungan ini dilandasi oleh aspek ekonomi dan sosial. Sehingga dicarilah Purnama Sasih Karo yang tidak ada Wuku Wariganya,” terang Jro Ketut Juena.

Mantan Kelian Desa Pakraman Depeha, ini menjelaskan Upacara nampah batu juga berkenaan dengan acara menek medesa bagi krama anyar (pasangan suami istri yang baru menikah, Red). Artinya krama Desa Depeha yang baru menikah wajib menek medesa.Menek medesa inimerupakan syarat kalau krama yang baru menikah sudah sah terdaftar sebagai krama secara niskala. Lalu, seperti apa kelanjutannya, simak ulasan berikutnya.

Belum ada komentar atas artikel ini, silakan tuliskan dalam formulir berikut ini

Formulir Penulisan Komentar

Nama
Alamat e-mail
Komentar
 

Layanan Mandiri


Silakan datang / hubungi perangkat Desa untuk mendapatkan kode PIN Anda.

Masukkan NIK dan PIN!

Media Sosial

FacebookYoutube

Statistik Kunjungan

Hari ini
Kemarin
Jumlah Pengunjung

JAM

KALENDER BALI

Lokasi Depeha

tampilkan dalam peta lebih besar